BERBUAH

Matius 21:18-22


Penulis pernah mencoba menanam bibit bunga. Bibit bunga itu perlahan-lahan bertumbuh. Lambat laun, mulai muncul daun-daun pada batangnya. Namun, ternyata yang tumbuh hanyalah daun-daun, dan sama sekali tidak kunjung muncul bunga seperti yang diharapkan. Ada pertumbuhan, tetapi ternyata tidak optimal karena tidak ada bunga pada tanaman itu.

Dalam perjalanan, Yesus merasa lapar, dan Ia melihat pohon ara. Namun, ternyata pohon ara itu hanya berisi daun-daun dan sama sekali tidak ada buahnya. Yesus mengutuk pohon ara itu, dan seketika itu juga pohon ara menjadi kering. Apakah kehidupan kita sama seperti pohon ara? Kita bisa saja sudah lama menjadi seorang Kristen. Bahkan, mungkin sejak kecil kita sudah menjadi seorang Kristen. Namun, apakah benar bahwa dalam kehidupan kita, kita menghasilkan buah-buah kasih Kristus? Apakah orang lain melihat buah-buah dalam keseharian kita? Atau jangan-jangan, tanpa kita sadari, kita justru menjadi seperti pohon ara yang dikutuk Yesus—pohon yang hanya berdaun lebat, tetapi tidak berbuah?

Sering kali dalam kehidupan, kita tidak sungguh sungguh hidup sebagai orang beriman. Kita bahkan kerap tidak sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Akibatnya, kita tidak mengalami pertumbuhan yang berarti. Mari belajar untuk tidak menjadi seperti pohon ara yang tidak berbuah. Biarlah kita terus bertumbuh dan menghasilkan buah yang lebat dalam kehidupan kita. (Wasiat)

REFLEKSI: Teruslah berbuah lebat, sehingga karya dan kehadiran Tuhan dapat dirasakan melalui kita. 

Share this Post