TANDA SALIB
Matius 12:38-42
Udin merasa tidak puas. Ia baru saja mengikuti seminar motivasi dan berharap mendapatkan solusi segera bagi bisnisnya yang sedang terpuruk. Udin berdoa, melakukan apa yang ia anggap benar, bahkan mencoba berbagai metode spiritual. Namun, keajaiban yang dinantikan tak kunjung datang. Kekecewaan merayap dalam hatinya. “Mengapa doaku tidak dijawab? Bukankah aku sudah memenuhi semua syarat?” Udin berpandangan bahwa Allah akan bertindak jika ia melakukan hal-hal spektakuler yang memancing kuasa Allah.
Yesus berhadapan dengan orang-orang yang hendak mengendalikan Allah melalui syarat-syarat manusiawi. Walaupun Yesus telah melakukan banyak mukjizat, mereka tetap tidak percaya karena hati mereka keras dan pemahaman mereka tentang karya Kristus keliru. Yesus menolak memberi tanda spektakuler karena tanda yang utama adalah salib. Melalui salib dan kematian-Nya, nyata keterlibatan Allah dalam menghadapi ketakutan terbesar manusia, yaitu maut. Kebangkitan-Nya membuka jalan baru bagi perubahan hidup manusia.
Waspadalah jika kita mulai mendikte Allah. Ini merupakan bentuk tinggi hati yang dapat memunculkan banyak dosa lain. Sikap iman yang benar adalah menatap salib dengan pertobatan. Bagian kita adalah menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Yesus. Jangan membalik posisi dengan menuntut Yesus mengikuti keinginan kita. Kesombongan rohani adalah pengabaian yang berbahaya. (Wasiat)
REFLEKSI:
Apakah sekarang ini kita sedang mengikut Yesus atau mendikte-Nya?