MULIAKAN TUHAN DENGAN HARTA
Amsal 3:5-12
Pernahkah Anda mendengar kegiatan Sedekah Bumi? Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat di Jawa. Mereka membawa hasil bumi, misalnya padi, jagung, buah-buahan, sayur-sayuran dan makanan tradisional. Hasil bumi tersebut disusun menyerupai gunung. Gunungan itu diarak keliling desa diiringi musik tradisional. Setelah diarak, hasil bumi bisa diambil oleh warga masyarakat yang menyaksikan. Kegiatan ini dilakukan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas berkat yang diterima.
Bacaan Alkitab hari ini merupakan ajakan untuk mengakui TUHAN dalam seluruh laku kehidupan. Mengakui TUHAN berarti rendah hati dan tidak menganggap diri pandai atau bijak. Mengakui TUHAN juga berarti menyadari bahwa penghasilan yang kita terima adalah berkat-Nya. Oleh karena itu, penulis Amsal mengundang pembacanya untuk memuliakan TUHAN melalui harta. Bahkan, penghasilan yang diterima seharusnya, pertama-tama, dipersembahkan kepada TUHAN.
Dalam hidup ini, ada berbagai upaya untuk memuliakan Tuhan. Kita bisa memuliakan Tuhan dengan puji-pujian, tubuh, atau pikiran untuk mendatangkan kebaikan bagi sesama. Firman Tuhan hari ini menambahkan hal lainnya, yaitu kita pun diundang untuk memuliakan Tuhan dengan harta kita. Itu berarti, bagaimana kita menggunakan harta kita, menjadi sangat menentukan: apakah kita memuliakan Tuhan atau justru mempermalukan Dia. Mana yang hendak kita pilih? (Wasiat)
REFLEKSI:
Harta terbaik bukanlah yang kita simpan, tetapi yang kita pergunakan untuk memuliakan Tuhan.