IDENTITASKU

Yohanes 13:31-35


“Dress code-nya apa?” Belakangan ini urusan dress code menjadi semakin penting. Para penatua sepakat mengenakan baju putih pada hari Natal. Paduan suara mengenakan seragam merah dengan bando Sinterklas. Untuk arisan keluarga sekaligus perayaan Natal, sebuah keluarga sepakat memakai batik. Dress code menjadi bukan hanya soal baju, melainkan sebuah identitas. Melalui dress code tersampaikan pesan, “Aku bagian dari kelompok ini. Aku tidak sendirian.” Wow!

Orang Kristen juga punya dress code. Bentuknya bukanlah baju, melainkan perilaku. Jika perilaku ini ditunjukkan, semua yang melihat dan merasakannya akan langsung tahu bahwa mereka adalah orang-orang Kristen. Menetapkan perilaku saling mengasihi sebagai sebuah identitas sungguh merupakan ide yang brilian. Sebab, baju bisa kekecilan. Bando bisa patah. Namun, perilaku akan menetap di dalam diri kita. Bahkan, sebelum kekristenan mendunia, Tuhan Yesus sudah lebih dulu mempersiapkan identitas itu bagi kita yang percaya kepada-Nya.

Bagaimana dengan kita yang pada kolom agama di kartu Tanda Penduduk (KTP) tertulis “Kristen”? Jika kita tidak membawa KTP, atau jika KTP kita simpan dalam dompet, apakah orang dapat melihat perilaku kita sebagai seorang Kristen? Apakah tanpa melihat KTP, orang lain dapat mengetahui identitas kita sebagai murid Kristus? (Wasiat)

REFLEKSI: Sudahkah perilakuku menjadi identitas Kristenku?

Share this Post