BERSUKACITALAH!

Mazmur 149


Kita adalah manusia yang hidup di tengah dunia yang cepat dan sibuk. Waktu 24 jam sehari sering kali terasa kurang. Istilah “pengacara” yang merupakan kependekan dari “pengangguran banyak acara” menunjukkan bahwa kesibukan menjadi gambaran manusia modern. Kesibukan dalam keseharian kita kerap merupakan rutinitas. Kita sudah memiliki pola kehidupan. Pola itu berulang. Kita terhisap dalam putaran kehidupan yang terus berputar. Di tengah kesibukan tersebut, dan bagaimana kita terhisap di dalamnya, saya mengajak kita sejenak bertanya pada diri sendiri mengenai rasa: apakah kita bersukacita?

Umat Israel, dalam Mazmur 149, diajak untuk bersukacita. Mereka diajak untuk bersukacita dan memuji TUHAN dengan nyanyian, tarian, rebana, dan kecapi. Ketika perasaan sukacita mendominasi hidup umat Israel, maka sukacita itu akan membawa mereka kepada sikap optimis. Dengan bersukacita karena berjalan bersama TUHAN, umat Israel akan mampu memaknai kehidupan dengan lebih dalam dan menjadikannya lebih bermakna. Dalam kehidupan yang begitu sibuk, muncul pertanyaan tentang bagaimana perasaan kita dalam menjalaninya. Jangan sampai kesibukan itu membuat kita menjalaninya seperti robot yang tidak memiliki rasa. Jangan sampai kita hanya menjalani semua aktivitas tanpa makna. Pemazmur mengajak kita untuk menjalani hidup dengan sukacita. Bersukacitalah! (Wasiat)

REFLEKSI:
Sambutlah setiap hari baru dengan sukacita. Karena setiap hari baru menunjukkan bahwa Tuhan selalu menyertai.

Share this Post