BERDIRI DI ANTARA HIDUP DAN MATI
Bilangan 16:41-50
Bayangkan seorang petugas medis yang berlari ke tengah zona bencana, membawa perlengkapan seadanya, menghadapi asap dan reruntuhan demi menyelamatkan satu nyawa. Ia tahu risikonya besar, tetapi ia tetap maju karena sadar: jika ia tidak bertindak sekarang, akan lebih banyak orang mati. Tindakan seperti itu tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga belas kasih dan rasa tanggung jawab yang besar.
Bacaan hari ini mengisahkan bangsa Israel kembali memberontak. Murka TUHAN pun dinyatakan dalam bentuk tulah yang mematikan. Musa memerintahkan Harun untuk segera mengambil perbaraan dengan api dari mezbah dan ukupan, lalu berlari ke tengah-tengah jemaah untuk mengadakan pendamaian. Harun, sebagai imam, berdiri di antara orang-orang yang mati dan yang hidup, dan tulah pun berhenti. Hal ini merupakan gambaran kuat tentang imam yang bertindak sebagai perantara antara umat yang berdosa dan Allah yang kudus, dengan kesadaran penuh bahwa hanya pengampunan Allah yang dapat menyelamatkan.
Pada masa kini, di tengah dunia yang dilanda konflik, kebencian, dan dosa, kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai, pengantara dalam doa, dan penyambung kasih karunia Allah kepada mereka yang terhilang. Seperti Harun, kita pun harus “berlari”—dalam doa, dalam pelayanan, dan dalam kasih—untuk membawa pengharapan dan keselamatan dari Tuhan kepada dunia di sekitar kita. (Wasiat)
REFLEKSI: Di hadapan dosa dan maut, kasih yang sejati bisa menjadi jembatan untuk menuju pada hidup.