TRADISI VERSUS INJIL
Markus 2:18-22
Dalam kehidupan beragama, termasuk dalam kekristenan, selalu ada kemungkinan bahwa selain inti ajaran, orang juga memelihara tradisi-tradisi yang tidak terkait langsung dengan inti ajaran. Celakanya, masih banyak orang yang justru lebih mementingkan pelaksanaan berbagai tradisi tersebut daripada berfokus melakukan inti ajaran.
Itulah yang terjadi di sebagian kalangan orang Yahudi. Salah satu tradisi yang dari waktu ke waktu sangat ditekankan adalah praktik puasa. Puasa pada dirinya sendiri tidak salah jika dilakukan dengan motif dan tujuan yang benar. Namun, sebagian orang menjadikan puasa sebagai kesempatan untuk mempertontonkan kesalehan pribadinya. Injil Markus yang kita baca hari ini diawali dengan pertanyaan sebagian orang kepada Yesus mengenai mengapa murid-murid Yesus tidak berpuasa. Yesus menjawab dengan beberapa gambaran. Salah satunya adalah gambaran tentang menambal baju tua dengan kain penambal yang baru yang belum susut. Jika kain penambal itu menyusut, maka kain tersebut akan merobek baju yang ditambal, atau sia-sia belaka.
Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah. Injil Kerajaan Allah bukan pertama-tama urusan ritual dengan berbagai tradisinya, melainkan berpusat pada kasih. Kasih yang mendorong orang untuk mempraktikkan kebenaran, keadilan, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari. (Wasiat)
DOA: Ya Bapa, tolonglah kami untuk memilih apa yang paling utama dalam hidup beriman yang kami praktikkan. Amin.