SAAT NAPAS BERHENTI
Mazmur 146
Michael adalah seorang pengusaha ternama yang membangun kerajaan
bisnisnya dari nol. Ia bekerja keras mencapai puncak kesuksesan. Kekayaan,
ketenaran, dan kekuasaan telah dicapainya. Namun, Michael menyimpan
kekhawatiran mendalam. Kesehatannya mulai menurun, usianya tak lagi muda, dan
ia menyadari bahwa semua yang ia kumpulkan selama ini tidak
dapat menjamin masa depannya. Bahkan, tidak dapat ia
bawa mati. “Siapakah yang akan meneruskan usahaku? Akankah kekayaanku
menemaniku pada akhir
hayatku?” gumamnya dalam
hati. Kegelisahan Michael mencerminkan realitas hidup yang sering kita lupakan, yaitu kefanaan manusia.
Seperti kata pemazmur, hidup
di dunia ini memang sementara. Segala pencapaian, kekuasaan, dan harta benda yang kita kumpulkan
akan sirna saat ajal menjemput. Seperti
embun pagi yang cepat hilang diterpa sinar matahari, demikian pula
kehidupan manusia di dunia. Pesan ini bukanlah untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mengingatkan
kita akan kenyataan, supaya kita tidak menaruh harapan pada hal-hal yang
fana.
Mengetahui kefanaan hidup
mendorong kita untuk lebih bijaksana. Maka, mari kita investasikan hidup dengan
membangun hubungan yang akrab dengan Allah dan mengasihi sesama. Setiap hari
adalah kesempatan untuk menghidupi teladan Kristus dengan menjadi jalan berkat
bagi sesama. Dengan demikian, meskipun raga kita akan kembali menjadi debu,
warisan iman dan kasih kita akan tetap hidup dan berbuah. (Wasiat)
REFLEKSI: Apa yang akan aku tinggalkan saat napas hidupku kelak berhenti?