MEMUJI NAMA TUHAN
Mazmur 148
Allah bukanlah sekadar energi alam. Dia adalah Sang Pribadi Ilahi. Kepada Musa, Allah memperkenalkan nama-Nya, yaitu YHWH (baca: Adonai), yang artinya “TUHAN Penolong”. Dengan menyatakan diri-Nya, Allah yang tidak terbatas menjadi Allah yang dikenal dan dekat sehingga terjalin relasi personal dengan umat-Nya.
Nama “Allah” bersifat kudus, karena itu setiap umat tidak boleh menyebut nama TUHAN dengan sia-sia (Kel. 20:7). Di dalam nama Allah terkandung kuasa dan perlindungan bagi mereka yang percaya. Amsal 18:10 menyatakan bahwa nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat. Karena itu umat menaikkan doksologi yang memuji dan memuliakan Allah. Secara harafiah doksologi berasal dari kata “doxa” (kemuliaan) dan kata “logia” (perkataan). Melalui doksologi, umat menaikkan pujian bagi kemuliaan Allah. Hakikat ibadah adalah umat memuji nama Tuhan dan menyembah-Nya.
Ibadah tidak hanya terbatas pada lingkup ritual, sebab setiap aspek dalam kehidupan merupakan ibadah. Karena itu makna memuji Tuhan seharusnya diejawantahkan ke dalam realitas hidup sehari-hari, yaitu “liturgy after the liturgy”. Kita memuji Allah seraya memberlakukan kasih, keadilan, dan perdamaian. Ibadah yang memuji Allah senantiasa terintegrasi dengan tindakan sehari-hari. Kita akan menista nama Tuhan, apabila ucapan atau perbuatan kita bertentangan dengan firman-Nya. (Wasiat)
Doa
Mampukanlah kami memuji dan memuliakan nama-Mu ya Tuhan, dalam ibadah dan setiap aspek kehidupan kami, sebab Engkau kudus. Amin.