MAKNA PUASA
Yesaya 58:1-12
Ada sebuah fenomena yang disebut love scamming atau penipuan romansa. Penipu menargetkan korban dengan alibi mencari pasangan di media sosial. Ia akan memanipulasi korban sampai percaya pada perasaan yang dituturkannya, lalu mengambil keuntungan secara materi. Begitulah manusia. Manusia pintar “memoles” bagian luar dirinya, sehingga sifat yang sebenarnya bisa tertutup rapi. Bahkan, saking pintarnya “memoles” diri, manusia kerap merasa dapat menipu Tuhan.
Inilah yang dilakukan oleh Bangsa Israel kepada TUHAN. Bangsa Israel memoles ibadah mereka sehingga tampak saleh agar TUHAN mau memberkati mereka. Akan tetapi TUHAN jelas tidak bisa ditipu. TUHAN dapat menyelidiki bahwa puasa yang dilakukan orang Israel masih diiringi perilaku menindas para buruh, berkelahi, berdebat, dan melakukan kekerasan. TUHAN tidak berkenan dengan puasa yang demikian. Oleh sebab itu, TUHAN menyatakan bahwa puasa yang dikehendaki-Nya adalah puasa yang diiringi dengan tindakan menyatakan keadilan, ramah tamah, berbagi terhadap sesama, dan kebaikan.
Saudara, puasa bukanlah sarana agar
kita diberkati oleh Tuhan, melainkan sebagai sarana yang Tuhan berikan agar
kita mengasihi sesama seperti Tuhan mengasihi mereka. Puasa yang benar bukan
hanya soal pribadi kita dengan Tuhan, tetapi juga soal pribadi kita dengan
sesama. Puasa adalah cara kita berempati terhadap mereka yang menderita dan
tertindas. (Wasiat)
REFLEKSI:
Puasa merupakan sarana Allah untuk mengubah diri kita agar lebih mengasihi sesama.