LAHIR BARU
Yohanes 3:1-17
“Lahir baru” bukan sekadar konsep.
Ini adalah praktik hidup sehari-hari yang membuahkan transformasi. Praktik ini tumbuh dari kesadaran yang digerakkan oleh Roh.
Petrus, Yohanes, dan Andreas memperlihatkan contoh nyata. Para nelayan biasa
ini bertransformasi menjadi “penjala manusia”. Demikian pula Paulus yang
berubah dari pemburu jemaat menjadi pembangun jemaat.
Percakapan Yesus dengan Nikodemus
memperlihatkan arti pentingnya lahir baru. “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat
Kerajaan Allah.” Arti Kerajaan Allah
di sini adalah relasi dan kondisi hidup yang penuh damai sejahtera bersama
Allah di dalam Kristus. Untuk mengalami kehidupan demikian, orang harus
dilahirkan kembali oleh Roh. Roh Kudus menginsafkan manusia akan dosanya, lalu menuntun
serta memperbarui manusia untuk menjadi sama seperti Kristus. Dalam proses
inilah manusia mengalami lahir baru. Hidupnya terus diperbarui.
Sebagai umat yang
percaya kepada Allah di dalam Kristus, “lahir baru” harus menjadi
life style. Dengan
lahir baru, hidup kita berubah dan berbuah. Terjadi transformasi terus-menerus
seperti yang dialami Petrus, Yohanes, atau Paulus. Transformasi memang tidak
bisa kita sandarkan pada kekuatan kita saja. Kita harus terbuka dan mengandalkan kuasa Roh Kudus
yang membimbing kita. (Wasiat)
REFLEKSI:
“Lahir baru” bukanlah
tekad sekali jadi. Lahir baru membutuhkan konsistensi dalam Roh untuk
terus berubah ke arah Kristus.