JANGAN KERASKAN HATI!
Mazmur 95
Seorang anak telah dinasihati oleh
ayah dan ibunya agar mengelola keuangan dengan baik. “Jangan suka judi online. Jangan suka pinjam uang online.” Namun, nasihat orang tua tidak
digubris. Akibatnya, yang terjadi adalah penyesalan. Seandainya anak tersebut
tidak mengeraskan hati,
ceritanya akan berbeda.
Mengeraskan hati
itu merugikan. Pemazmur mengungkapkan hal tersebut dalam nyanyiannya. Ia
berkaca dari pengalaman umat Israel di padang gurun. Israel sering
bersungut-sungut, melakukan pelanggaran, bahkan menyalahkan TUHAN atas
penderitaan yang mereka alami di gurun pasir itu. Padahal,
mereka sudah melihat perbuatan TUHAN yang penuh belas kasihan. Mereka
sudah merasakan pimpinan TUHAN dalam kehidupan mereka.
Namun, firman TUHAN tidak
diindahkan. Nasihat pemimpin tidak dihiraukan. Akhirnya, mereka harus bersusah
payah selama empat puluh tahun. Dari generasi itu, hanya Yosua dan Kaleb yang
dapat merasakan keindahan Kanaan.
Hati yang mengeras adalah hati yang sakit, bagaikan kanker. Ketidakterbukaan untuk menerima nasihat akan berdampak panjang. Anak dalam cerita di atas akhirnya terkena PHK dari kantornya. Ia menyusahkan dirinya sendiri. Untungnya, kedua orang tuanya yang baik hati itu mau menolong anak yang keras hati ini. Sang anak menyesal dan kini sedang berproses untuk pulih! (Wasiat)
REFLEKSI:
Mengeraskan hati itu menyusahkan diri sendiri. Sebaliknya, terbuka pada nasihat akan membawa kita pada keberkahan.