IMAN DAN PEMBARUAN
Yesaya 65:17-25
“Iman tidak statis. Iman itu dinamis.” Pernyataan ini kerap kita dengar. Iman yang hidup memang
terus bergerak, bertumbuh, dan melahirkan buah yang baik.
Bahkan, iman menjadi dasar
penggerak perubahan dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Suatu masyarakat
dapat diubah oleh nilai-nilai iman sehingga menjadi semakin baik dan maju.
Yesaya, dalam
visinya, memperlihatkan bahwa Allah sendiri adalah aktor utama perubahan dan
pembaruan. Israel yang lama, yang menderita di pembuangan, dituntun-Nya untuk
pulang kembali ke negerinya. Allah menciptakan
langit baru dan bumi baru. Di situ tidak
ada lagi ingatan akan hal-hal yang buruk dan jahat. Bahkan, niat jahat di hati tidak akan timbul.
Artinya, Allah mentransformasi pusat kesadaran mereka, yaitu hati dan ingatan atau akal budi. Allah
menganugerahkan lingkungan yang baru, yaitu lingkungan yang penuh dengan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian. Dengan mengimani Allah yang memiliki visi dan tindakan seperti
ini, Israel dipanggil untuk mengusahakan syalom Allah dalam keseharian.
Iman kepada Allah
memiliki kekuatan yang menggerakkan kita secara dinamis untuk mengupayakan
perubahan dan pembaruan. Karena itu, orang beriman tidak boleh anti perubahan.
Justru orang beriman diajak untuk secara proaktif
mewujudkan perubahan agar damai
sejahtera terwujud, baik secara pribadi maupun sosial. (Wasiat)
REFLEKSI:
Syalom itu harapan,
dan tindakan iman membawa kita ke sana. Jadi,
orang beriman tidak bisa pasif berdiam. Ia berbuat demi perubahan.