HIDUPLAH DENGAN RASA CUKUP!
Keluaran 16:9-21
Korupsi melanda Indonesia dengan
dahsyat. Korupsi mungkin tidak lagi dipandang sebagai penyakit, melainkan
seolah-olah menjadi prestasi. Padahal, korupsi adalah bentuk
pengkhianatan terhadap nurani dan akal sehat. Korupsi memiskinkan serta merusak
alam dan negara. Korupsi bermula dari hilangnya rasa cukup.
Perjalanan
umat Israel di padang gurun menjadi contoh yang baik. Dalam kesulitan, bangsa ini memperlihatkan watak aslinya.
Mereka bukan berdoa dan bekerja, melainkan
bersungut-sungut. Saat diberikan roti dan daging,
mereka tidak bersyukur dan mencukupkan diri, tetapi mengambil lebih.
Padahal, Musa sudah mengingatkan mereka untuk mengambil sesuai keperluan. Artinya,
cukupkan diri sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Namun,
mereka hanya memikirkan diri sendiri, mengambil dan menyimpan, hingga yang
disimpan itu berulat dan busuk. Menyimpan dengan motivasi memperkaya diri
sendiri, tidak akan pernah menjadi berkat.
Kita harus belajar untuk hidup dengan rasa cukup. Jangan memaksakan diri hanya demi terlihat mewah dan tampak kaya di hadapan orang lain. Apalagi sampai melakukan korupsi, mengambil yang bukan hak kita. Jangan ikuti keinginan, sebab keinginan itu tak pernah terpuaskan. Hal ini akan membebaskan kita dari hasrat korupsi dan keserakahan. Jadi, belajarlah mengontrol keinginan, dan hiduplah dengan rasa cukup! (Wasiat)
REFLEKSI:
Keinginan itu tak berbatas, tetapi kebutuhan memiliki batas. Penuhi kebutuhan dengan rasa cukup, niscaya bahagia tak akan lepas.