BERGUMUL DENGAN TUHAN
Ayub 13:13-19
“Siapakah aku? Apakah aku sanggup beperkara dengan Tuhan?
Mengapa Tuhan mengizinkan sesuatu yang buruk
terjadi dalam kehidupanku? Padahal, aku yakin
aku benar. Aku selalu berusaha untuk berbuat baik. Lalu, mengapa
kesukaran ini menimpa aku?” Pernahkah Anda bertanya seperti ini?
Ayub hadir mewakili manusia
pada umumnya. Ia bergumul hebat. Banyak pertanyaan berseliweran di kepalanya.
Betapa tidak, ia sosok yang saleh. Ia tekun melakukan aturan dan ajaran agama.
Ia rajin berdoa dan mempersembahkan kurban, bagi dirinya maupun untuk
anak-anaknya. Ia baik hati dan suka berbagi. Namun, ia ditimpa penderitaan yang
hebat. Satu per satu apa yang ia banggakan lepas dari hidupnya. Sahabat-sahabat
datang mengujinya. Sebagai manusia, ia tidak dapat tahan dalam situasi yang
demikian berat. Karena itu, ia menyiapkan perkaranya di hadapan TUHAN. Ia
yakin, ia benar. Ia tidak seperti yang ditudingkan orang-orang. Bukan karena
dosa ia menderita.
Ketika yang kita alami berbeda dari yang kita imani, kita bisa bertanya kepada Tuhan. Bukan untuk mempersalahkan Tuhan atau orang lain, tetapi untuk mencari makna di balik kerumitan masalah hidup yang terjadi. Sebab, tanda tanya yang bermunculan justru bisa menjadi awal yang baik untuk kita bergumul dengan Tuhan dan menemukan jawaban. (Wasiat)
REFLEKSI:
Bergumul dengan Tuhan di tengah masalah menolong kita untuk terus kritis terhadap diri sendiri. Yakinlah, derita bukan akhir cerita.